Kimia dasar Termokimia dan Stoikiometri

STOIKIOMTRI DAN TERMOKIMIA

1.      Tanggal Praktikum: Selasa, 8 Oktober 2013

2.      Tujuan

·   Untuk mempelajari hubungan massa antar unsur dalam suatu senyawa (stoikiomteri senyawa) dan antar zar dalam suatu reaksi kimia (stoikiometri reaksi).

·   Mengamati setiap reaksi kimia disertai perubahan energi dan perubahan kalor yang dapat ukur.

3.      Teori Singkat

Stoikiometri berasal dari bahasa Yunani yaitu stoiceon (unsure) dan metrein (mengukur). Stoikiometri berarti mengukur unsure-unsur dalam hal ini adalah  partikel atom ion, molekul yang terdapat dalam unsure atau senyawa yang terlibat dalam reaksi kimia. Stoikiometri adalah ilmu yang mempelajari dan menghitung hubungan kuantitatif dari reaktan dan produk dalam reaksi kimia (persamaan kimia) yang didasarkan pada hukum-hukun dasar dan persamaan reaksi.

Stoikiometri reaksi adalah penentuan perbandingan masa unsur-unsur dalam senyawa dalam pembentukan senyawanya. Pada perhitungan kimia secara stoikiometri, biasanya diperlukan hukum-hukum dasar ilmu kimia, diantaranya:

·         Hukum Kekekalan Massa

Hukum kekekalan massa dikemukakan oleh Antonio Laurent Laoisier (1785) yang berbunyi : massa zat sebelum dan sesudah reaksi sama.

·         Hukum Perbandingan Tetap

Hukum proust atau hukum perbandingan tetap yang berbunyi : setiap senyawa terbentuk dari unsure-unsur dengan perbandingan tetap.

·         Hukum kelipatan perbandingan / Hukum Perbandingan Berganda (Hukum Dalton)

“Jika dua jenis unsure dapat membentuk lebih dari satu macam senyawa, maka perbandingan massa salah satu unsure yang terikat pada massa unsure lain yang sama, merupakan bilangan bulat dan sederhana.”

·         Hukum Perbandingan Volum (Hukum Gay Lussac).

“Pada suhu dan tekanan yang sama, perbandingan volum gas-gas yang bereaksi dan dan hasil reaksi merupakan bilangan bulat dan sederhana.”

·         Hukum Avogadro

“Pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas yang volumenya sama mengandung jumlah partikel yang sama pula.”

Termokimia adalah ilmu yang membahas hubungan antara kalor dengan reaksi kimia atau proses-proses yang berhubungan dengan reaksi kimia. Dalam praktiknya termokimia lebih banyak berhubungan dengan pengukuran kalor yang menyertai reaksi kimia atau proses-proses yang berhubungan dengan perubahan struktur zat, misalnya perubahan wujud atau perubahan wujud kristal.

            Dalam Termokimia,ada dua hal yang perlu diperhatikan menyangkut perpindahan energi, yaitu system dan lingkungan. System adalah segala sesuatu yang menjadi pusat perhatian dalam mempelajari perubahan energi, sedangkan lingkungan adalah hal-hal diluar system yang membatasi system dan dapat mempengaruhi sistem.

            Reaksi eksoterm adalah reaksi yang disertai dengan perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan. Dalam hal ini system melepaskan kalor ke lingkungan. Pada reaksi eksoterm umumnya suhu system naik. Adanya kenaikan suhu inilah yang mengakibatkan system melepaskan kalor ke lingkungan.

            Reaksi endoterm adalah reaksi yang disertai dengan prepindahan kalor dari lingkungan ke system. Dalam reaksi ini, kalor diserap oleh system dari lingkungannya. Pada reaksi endoterm umumnya ditunjukkan oleh adanya penurunan suhu. Adanya penurunan suhu system inilah yang mengakibatkan terjadinya penyerapan kalor oleh system.

            Kalor merupakan perpindahan energi yang terjadi akibat adanya perbedaan suhu. Jadi perubahan kalor pada suatu reaksi dapat diukur melalui pengukuran perubahan suhu yang terjadi. Pengukuran perubahan kalor dapat dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut kalorimeter. Kalorimeter adalah pengukur jumlah kalor yang dilepas atau diserap pada reaksi kimia.

            Besarnya kalor yang menyebabkan perubahan suhu (kenaikan atau penurunan suhu) air yang terdapat di dalam calorimeter dirumuskan sebagai:

                        Q = m x c x∆T

                        Dengan,    m = massa air dalam calorimeter (gram)

                                          c =  kalor jenis air dalam calorimeter (J g K atau J g C)

                                         ∆T = perubahan suhu (Catau K)

4.      Alat dan Bahan

Alat

Stoikiometri                                              Termokimia

       Tabung reaksi + sumbat karet                – Kalorimeter

       Erlenmeyer                                            – Termometer

       Balon tiup                                              – Gelas piala

       Pipet volumetrik                                    – Tabung Reaksi

       Rak tabung reaksi                                  – Rak tabung reaksi

       Bulb                                                       – Gelas ukur

       Corong                                                   – Sudip

       Labu semprot plastik                             – Kaca arloji

Bahan

Stoikiometri                                              Termokimia

       Na2CO3                                                  – serbuk Zn

       HCl 1 M                                                            – CuSO4 1 M

       CaCl2                                                     – HCl 2M

       Pita Mg                                                  – NaOH 2 M

       Air suling                                              

5.      Cara Kerja

Cara Kerja

Stoikiometri

1.      Pengaruh Banyaknya Reaksi yang Terbatas

·      Siapkan 6 tabung reaksi dengan diameter yang sama, dan yang dilengkapi dengan sumbat karet yang baik.

·      Tempatkan tabung-tabung tersebut pada rak yang baik.

·      Dengan menggunakan pipet, masukkankedalam masing-masing tabung reaksi 5 ml larutan Na2CO3

·      Tambahkan juga kedalam masing-masing larutan CaCldengan konsentrasi 1M ; 0,5M ; 0,5M ; 1M ; 0,1M ; 0,05M. Semua tabung segera ditutup dengan sumbat karet, kocok kuat-kuat. Jumlah pengocokan untuk semua tabung harus sama (misal 20 kali)

·      Setelah itu biarkan tabung pada rak selama 15 sampai 20 menit sampai semua endapan terkumpul pada dasar tabung.

·      Bandingkan endapan yang terbentuk dengan mengambil tabung nomor 3 sebagai pembanding.

2.      Hubungan Antara Mol Pereaksi dengan Mol Produk

·      Siapkan 3 labu Erlenmayer 125 ml, dan masukkan dengan hati-hati 50 ml larut HCl 1M ke dalam masing-masing Erlenmayer. Pakailah corong agar leher labu tidak terbasahi.

·      Timbanglah 10 cm pita Mg sebanyak 0,3 gram ; 0.6 gram ; dan 1,2 gram. Lilitkan pita-pita ini dan tempatkan dalam leher masing-masing Erlenmayer tadi. Hati-hati jangan sampai pita Mg bersentuhan dengan larutan HCl dalam labu. Pasanglah balon yang yang telah disediakan pada mulut masing-masing labu, dan agar tertutup rapat pakailah pita perekat.

·      Selanjutnya dengan memakai jari diluar balon, doronglah pita Mg yang 0,6 gram dari leher labu hingga masuk kedalamlarutan HCl. Catatlah segala sesuatu yang dapat diamati. Setelah itu kerjakan hal yang sama dengan pita Mg yang 0,3 gram dan 1,2 gram. Sekali-kali putar labu, sampai tidak terjadi reaksi lagi. Catat semua laporan pada laporan sementara.

Termokimia

1.      Penetuan Tetapan Kalorimeter

·      Masukkan 20 ml air kedalam calorimeter. Catat temperaturnya selama 5 menit, berselang 1 menit.

·      Panaskan 20 ml air dalam gelas piala sampai kenaikkan suhu kira-kira 100C dari suhu kamar. Catat temperaturnya selam 5 menit, berselang 1 menit.

·      Campurkan air panas itu ke dalam kalorimeter yang berisi air dingin. Kocok dan catat temeperatur maksimum yang konstan.

·      Hitung tetapan kalorimeternya.

2.      Penentuan Kalor Reaksi Zn-CuSO4

·      Masukkan 40 ml CuSO ke dalam calorimeter. Catat temperaturnya.

·      Timbang 3 gram serbuk Zn. (Ar Zn = 65,4).

·      Masukkan serbuk Zn ke dalam kalorimeter yang berisi larutan CuSO4. Catat temperatur maksimum yang konstan.

3.      Penentuan Kalor Penetralan HCl-NaOH

·      Masukkan 20 ml HCl 1M ke dalam kalorimeter. Catat temperaturnya selama 5 menit, berselang 1 menit.

·      Ukur 20 ml NaOH

·      Campurkan larutan NaOH ini dengan larutan HCl dalam kalorimeter. Catat temeperaturnya selam 5 menit, berselang 1 menit.

4.      Kalor Pelarutan Berbagai Zat

           Zat-zat yang akan diamati kalor pelarutnya adalah NaOH, Na2S04, NaCl, NH2SO4, CaCl, dan KI.

·      Masukkan zat padat ke dalam tabung reaksi setinggi kurang lebih 1 cm.

·      Tambahkan air yang temperaturnya diketahui setinggi 5 cm.

·      Kocoklah tabung dan isinya selama 5 menit, lalu ukurlah temperature larutan.

6.      Hasil Pengamatan

Stoikiometri

1.      Pengaruh banyaknya reaksi yang terbatas

No. Tabung

Konsensentrasi

Tinggi Endapan (cm)

mmol Na2CO3

mmol CaCl2

mmol produk (CaCO3)

Na2CO3

(M)

CaCl2

(M)

1

1

1

1,3

5

5

13×103

2

1

1

1,1

5

2,5

11×103

3

1

0,5

1,2

5

2,5

12×103

4

1

0,5

1,3

5

5

13×103

5

1

0,1

0,3

5

0,5

3×103

6

1

0,05

0,2

5

0,5

2×103

Keterangan: Diameter tabung sama, maka perbandingan tinggi endapan yang terbentuk sama dengan perbandingan volume endapan.

2.      Hubungan antara mol pereaksi dengan mol produk

Erlenmeyer

Volume HCl

Bobot Mg

Waktu Reaksi

Pengamatan

1

50ml

0,15gr

Terjadi gelembung kecil didalam larutan, dan balon menggelembung secara perlahan.

2

50ml

0,20gr

Terjadi gelembung kecil didalam larutan, dan balon menggelembung.

3

50ml

0,25gr

Terjadi gelembung didalam larutan, dan balon menggelembung secara perlahan dan lebih cepat.

Termokimia

1.      Penentuan Tetapan Kalorimeter panas

Air Biasa

Air Panas

Massa (gr)

20 ml

20= 2930

T awal (0K)

27= 3000K

43= 3160

Keterangan: Kalor jenis air (S) : 4,2 JK-1g-1

Air biasa

Waktu (menit)

Temperatur (0K)

1

270C = 3000K

2

270C = 3000K

3

270C = 3000K

4

270C = 3000K

5

270C = 3000K

Campuran air biasa dan air panas

Waktu (menit)

Temperatur (0K)

1

320C = 3050K

2

310C = 3040K

3

300C = 3030K

4

300C = 3030K

5

300C = 3030K

2.      Penentuan kalor reaksi Zn-CuSO4

Data penimbangan Zn

Bobot Zn + kaca arloji     = 22,409 gr

Bobot kaca arloji kosong = 16,608 gr

Bobot Zn                          = 3,00 gr


Suhu awal CuSO4 280C

Waktu (menit)

Temperatur (0K)

1

290C = 3020K

2

290C = 3020K

3

290C = 3020K

 4

290C = 3020K

5

290C = 3020K

Campuran CuSO4 dengan serbuk Zn

Waktu (menit)

Temperatur (0K)

1

290C = 3020K

2

290C = 3020K

3

280C = 3010K

4

280C = 3010K

5

290C = 3020K



Data Perhitungan

HCl = awal = 270C

Waktu (menit)

Temperatur (0K)

1

280C = 3010K

2

280C = 3010K

3

280C = 3010K

4

280C = 3010K

5

290C = 3020K

 NaOH dengan HCl

NaOH awal = 270C

Waktu (menit)

Temperatur (0K)

1

290C = 3020K

2

290C = 3020K

3

280C = 3010K

4

280C = 3010K

5

290C = 3020K

7.      Perhitungan

Stoikiometri

1. Pengaruh banyaknya reaksi yang terbatas

Reaksi:

       Na2CO3  +  CaCl2   ®  CaCO3  +  2 NaCl

          Perhitungan mmol CaCl2 larutan yang digunakan

mmol = Konsentrasi CaCl2 x volume larutan yang digunakan

a.       mmol = 1 M x 5 ml = 5 mmol

b.      mmol = 0,5 M x 5 ml = 0,25 mmol

c.       mmol = 0,1 M x 5 ml = 0,5 mmol

d.      mmol = 0,05 M x 5 ml = 0,025 mmol

          Perhitungan mmol produk yang terbentuk (CaCO3)

gr produk = tinggi endapan x 1000

mol = gr produk / Mr CaCO3

a.       Konsentrasi 1 M

gr produk = 1,3 x 1000 = 1300 cm3 = 1300 gr

mol = 1300/100 = 13 mol = 13 x 103mmol

b.      Konsentrasi 0,5 M

gr produk = 1,1 x 1000 = 1100 cm3 = 1100 gr

mol = 1100/100 = 11 mol = 11 x103mmol

c.       Konsentrasi 0,5 M

gr produk = 1,2 x 1000 = 1200 cm3 = 1200 gr

mol = 1200/100 = 12 mol = 12 x103mmol

d.      Konsentrasi 1 M

gr produk = 1,3 x 1000 = 1300 cm3 = 1300 gr

mol = 1300/100 = 13 mol = 13 x 103mmol

e.       Konsentrasi 0,1 M

gr produk = 0,3 x 1000 = 300 cm3 = 300 gr

mol = 300/100 = 3 mol = 3 x 103mmol

f.       Konsentrasi 0,05 M

gr produk = 0,2 x 1000 = 200 cm3 = 200 gr

mol = 200/100 = 2 mol = 2 x 103mmol

2. Hubungan antara mol pereaksi dengan mol produk

·      mol HCl

mol = konsentrasi HCl x Volume HCl yang digunakan

       = 1 M x 50 ml

       = 50 mmol = 0,05 mol

·      mol Mg

mol = 

a.       mol =   = 0,00625

b.      mol =  = 0,00833

c.       mol =   = 0,01041

·         Tuliskan persamaan reaksi CaCl2 dengan Na2CO3 ?

Na2Co3 + CaCl           2Nacl + CaCO3

·         Tuliskan persamaan reaksi Mg dengan HCl. Kemudian hitunglah volume H2 yang terbentuk?

(I)    Mol Mg =  = 0,00625 mol

Mol HCl = M  x  V

               = 1M x 50Ml = 50Mmol

               = 0,05 mol

Mg         +       2HCl            MgCl2    +      H2

0,00625          0,10                                    0,00625

0,00625           0,0125

0                                  0,0875

     V.H2 = mol H2 x 22,4 L

                                 = 0,00625 x 22,4

                                 = 0,14 L

(II)  Mol Mg =  = 0,00833

mol  HCl = 0,05 mol

Mg            +           2HCl             MgCl2         +        H2

8,3 x 10-3                0,10

8,3 x 10-3               16,6 x 10-3

V.H2 = mol H2 x 22,4 L

         = 0,00833 x 22,4

         = 0,18 L

(III) Mol Mg =  = 0,01041

        Mol HCl = 0,05 mol

        V.H2 = mol H2 x 22,4 L

         = 0,01041 x 22,4

         = 0,23 L

Termokimia

1.      Penentuan Tetapan Kalorimeter Panas

·         Air biasa

Massa = 20 ml = 20 cm3 = 20 g

T awal = 29°C = 302°K

·         Air panas

Massa = 20 ml = 20 cm3 = 20 g

T awal = 39°C = 312°K

Ø  Kalor yang diterima air biasa Q1 = m x S x ∆T = … J

∆T = suhu menit 1 pencampuran – suhu awal  air biasa

                                                        Q1 = 20 x 4,2 x 5 = 420  J

                                                        ∆T = 305 – 300 = 5

Ø  Kalor yang diterima air panas Q2 = m x S x ∆T = … J

∆t = suhu menit awal air panas – suhu menit 1 pencampuran

                                                            Q2 = 20 x 4,2 x 11 = 924 J

                                                            ∆T = 316 – 305 = 11

Ø  Kalor yang diterima Kalorimeter Q3 = Q2 – Q1

                                                        Q3 = 924 – 420 = 504 J

Ø  Tetapan Kalorimeter = m x S x (∆t – ∆T) / ∆T = …JK-1

                                                        20 x 4,2 x  = 100,8

                                                        Atau Q3 /  ∆T =… JK-1

                                                                                         = 100,8 JK-1

2.      Penentuan Kalor Reaksi Zn – CuSO4

Ø  Massa serbuk Zn = 3 gr

Ø  Tetapan Kalorimeter = 100,8 JK-1 (lihat hasil dari percobaan 1)

Ø  Kalor jenis larutan CuSO4 = 4,00JK-1g-1

Ø  Campuran larutan CuSO4 dengan serbuk Zn

Waktu (menit)

Temperatur (0K)

1

290C = 3020K

2

290C = 3020K

3

280C = 3010K

4

280C = 3010K

5

290C = 3020K

Ø  Zn + CuSO4 à ZnSO4 = 1,14 JK-1g-1

Ø  Massa jenis larutan ZnSO= 1,14 gr/cm

Ø  Kalor jenis larutan ZnSO= 4,00 JK-1G-1

Ø  Volume CuSO4 = 40 ml = 0,04 L

Ø  Tawal CuSO= 3010K

T akhir campuran Zn + CuSO4 = 3020K

∆T = T akhir – T awal = 10K

Ø  Massa larutan ZnSO4 = Massa jenis ZnSO4 x Volume CuSO4 (ml) =…gr

                                       1,14 gr/cm3             x     40 ml                   = 45,6 gr

Ø  Kalor yang diserap kalorimeter = Tetapan Kalorimeter x ∆T =…J

                                                   = 100,8 x 1                             = 100,8 J

Ø  Kalor yang diserap larutn = Massa ZnSO4 x Kalor jenis ZnSOx ∆T =…J

                                          = 45,6  x 4 x 1                                              = 182,4 J

Ø  Kalor reaksi = Kalor yang diserap calorimeter + Kalor yang diserap larutan =…J

                     = 100, 8 + 182, 4                                                                        = 283,2 J

Ø  Mol pereaksi CuSO4 = M x Vol (L) = 1 M x0,04 L = 0,04 mol

Ø  ∆H reaksi (entalpi reaksi) = Kalor pereaksi/ Mol pereaksi =…J/mol

                                          =                                                                                                       = 7080 J/mol                                               

3. Penetuan Kalor Penetralan HCL – NaOH

                                                    HCl   +   NaOH   ®  NaCl  +  H2O

Ø  Berat jenis lautan = 1,02 g/cm3

Ø  Kalor jenis larutan = 4,02 JK-1g-1

HCL + NaOH à NaCL + H2O

       (270C)               (270C)

Ø  T awal HCL ≈ T awal NaOH à 3000K

T awal campuran (menit ke 1 ) = 3020K

∆T = T awal percampuran – T awal HCL =…0K

      = 302 – 300                                        = 20K

Ø  Massa larutan = Berat jenis larutan x Volume = …gr

                        = 1,02 x 40                                = 408gr

Ø  Mol (n) = mol = = … mol

                        =                 = 0,697 mol = 0,7 mol

Ø  Kalor yang diserap Kalorimeter Q1 = Tetapan calorimeter x ∆T =…J

                                                        = 100,8 x 2                            = 201,6 J

Ø  Kalor yang diserap larutan Q2 = Massa larutan x Kalor jenis larutan x ∆T =…J

                                                  = 40,8 x 4,2 x 2                                            = 328,032J

Ø  Kalor reaksi Q3 = Q1 + Q2 =…J

                           = 201,6 + 328 = 529,6 J

Ø  ∆H penetralan = 

                        

                                 

4.      Kalor pelarutan Berbagai Zat

Zat yang Diamati

Temperatur air

Temperatur larutan

Reaksi

NaOH

290C

470C

2Na + 2H20        2NaOH + H2

Na2SO4

290C

310C

Na2SO4 + H20          2NaOH + SO3

NaCl

290C

330C

NaCl + H20          HCl + NaOH

NH2SO4

290C

310C

CaCl2

290C

310C

CaCl + H20           CaCO3 + 2HCl

Kl

290C

290C

8.    Pembahasan

Stoikiometri

1. Pengaruh banyaknya reaksi yang terbatas

       Dari percobaan ini, setelah kita amati semakin tinggi konsentrasi larutan yang di reaksikan dengan jumlah volume yang sama akan menghasilkan produk hasil reaksi yang lebih banyak, dan banyaknya endapan putih CaCO3 yang terbentuk tergantung pada konsentrasi larutannya. Pada data tersebut, konsentrasi 1 M menghasilkan 13 mol dan tinggi endapannya yaitu 1,3cm, lalu pada konsentrasi 0,5 M menghasilkan 11 mol dan 12 mol dan tinggi endapannya yaitu 1,1 cm dan 1,2 cm, kemudian pada konsentrasi 0,1 M menghasilkan 3 mol yang mengahasil 0,3 cm tinggi endapannya, dan terakhir pada konsentrasi 0,05 M menghasilkan 2 mol CaCO3, menhasilkan tinggi endapannya yaitu 0,2 cm. Semakin kecil konsentrasi larutan yang direaksikan maka hasil reaksi akan semakin sedikit dan penambahan CaCl2 dengan volume yang sama tetapi konsentrasi yang berbeda akan mempengaruhi terbentuknya endapan. Hasil reaksi tersebut terbatas pada konsentrasi tertentu.

2. Hubungan antara mol pereaksi dengan mol produk

       Dari percobaan ini, setelah kita amati terjadi gelembungan di larutan, kemudian HCl bereaksi dengan logam Mg maka akan menghasilkan gas H2 yang langsung ditampung masuk ke dalam balon karet, sehingga balon akan menggembung secara perlahan, tetapi pada reaksi ini terjadi sangat lambat saat balon menggembung. Hal ini dapat disebabkan konsentrasi larutan yang digunakan kurang pekat dan dipengaruhi oleh bobot Mg, sehingga reaksinya berjalan membutuhkan waktu yang cukup lama..

      

Hubungan antara mol pereaksi dengan mol produk.

Seperti pada hasil praktikum yang telah dilakukan, pita Mg dengan massa 0,15 gr dengan HCl 1 M dengan reaksi:

                               Mg2+      +        2  HCl     ®     MgCl2          +       H2

mula-mula      0,00625 mol           0,05 mol               –                         –

reaksi              0,00625 mol         0,0125 mol      0,00625 mol           0,00625 mol

hasil                      0                     0,0375 mol      0,00625 mol           0,00625 mol

Pada reaksi tersebut dapat disimpulkan bahwa mol preaksi yang digunakan (Mg) sama dengan mol produk yang dihasilkan (H2), karena menurut Avogadro volumenya sebanding dengan berat (jumlah mol) tersebut .

Termokimia

1. Penentuan Tetapan Kalorimeter panas

       Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur perubahan panas. Setiap kalorimter memiliki sifat yang khas dalam mengukur panas. Ini dapat terjadi karena calorimeter sendiri mampu menyerap kalor atau panas sehingga tidak semua panas dapat terukur. Dari percobaan ini, penentuan tetapan kalorimeter dengan alat kalorimeter. Benda apabila suhunya lebih tinggi akan melepaskan kalor ke benda yang suhunya lebih rendah hingga suhu keduanya sama. Banyaknya kalor yang dilepas dari benda yang suhunya tinggi ke suhu yang rendah. Kegunaanya calorimeter salah satunya seperti pemanasan air yaitu membandingkan suhu air panas dengan suhu air dingin di dalam kalorimeter.

      

2. Penentuan Kalori Reaksi Zn – CuSO4

       Dari percobaan ini ditentukan kalor reaksi Zn – CuSO4 dengan cara mencampurkan padatan Zn ke dalam larutan CuSO4 di dalam kalorimeter. Waktunnya yaitu dari menit awal hingga menit akhir, suhu campuran tersebut konstan hal itu dapat disebabkan reaksi antara Zn – CuSO4, sistem dan lingkungannya sudah mengalami kesetimbangan sehingga suhu sistem tidak berubah. Dan dari perhitungan tersebut didapatkan entalpi sebesar 7080 J/mol. Nilai tersebut positif, berarti reaksi tersebut adalah reaksi endoterm yaitu reaksi yang membutuhkan kalor.

3. Penentuan Kalori Penetralan HCl-NaOH

       Dari percobaan ini yang dimaksud dengan kalori penetralan (DHn) adalah kalor reaksi pada reaksi pembentukan 1 mol H2O. Hasil DH yang didapatkan adalah 756,57 J/mol. Pada proses tersebut yang diukur panas reaksi yang terjadi pada proses penetralan. Pada  keadaan konsentrasi rendah asam kuat dan basa kuat dapat terionisasi sempurna menjadi ion-ionnya..             Kalor atau panas yang dihasilkan tidak bergantung dari sifat anion asam atau kation basanya, karena ada beberapa asam dan asam yang tidak dapat terioninsasi dengan sempurna seperti asam lemah dan basa lemah tetapi bergantung pada energi yang digunakan untuk proses disosiasi dan netralisasi senyawa tersebut.

4. Kalor pelarutan berbagai zat

       Kalor pelarutan adalah panas yang dilepaskan atau diserap ketika satu mol senyawa dilarutkan dalam pelaryut berlebih yaitu sampai suatu keadan dimana pada penambahan pelarut selanjutnya tidak ada panas yang diserap atau dilepaskan lagi.

       Pada percobaan ini yang dimaksud dengan kalor pelarutan (DHp) adalah kalor reaksi pada reaksi pelarutan 1 mol zat ke dalam pelarutnya. Pada pelarutan senyawa dengan air hampir semua larutan reaksinya bersifat eksoterm karena terjadi pelepasan kalor dari sitem ke lingkungan sehingga terjadi perubahan suhu. Reaksi eksoterm adalah reaksi yang disertai dengan perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan ( kalor dibebaskan oleh sistem ke lingkungannya ); ditandai dengan adanya kenaikan suhu lingkungan di sekitar system. Temperature air berubah setelah di larutkan misalnya larutan NaOH, temperature air 29C lalu temperature larutan menjadi 470C.

9.      Jawaban Pertanyaan

  

10.  Kesimpulan

Stoikiometri

Apabila suatu larutan berbeda dicampurkan biasanya terjadi perubahan sifat fisik, seperti perubahan warna, suhu, bentuk, dan lain – lain.

Dari percobaan yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa dari beberapa variasi volume sistem yang digunakan didapatkan titik maksimum pada pencampuran antara dua larutan yang volumenya seimbang dengan parameter suhu, dimana larutan yang memiliki perubahan suhu tertinggi merupakan campuran sempurna.

Semakin banyak massa Mg yang dimasukkan kedalam larutan HCl yang ada didalam tabung Erlenmayer, maka semakin cepat pula gas yang dihasilkan, sehingga balon menggelembung.

Termokimia

·         Dari percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam setiap reaksi kimia akan selalu disertai dengan perubahan energi. Perubahan energi ini dapat dilihat salah satunya dari perubaan suhu yang terjadi.

·         Perubahan kalor atau entalpi dapat ditentukan dengan besarnya perbedaan entalpi zat yang bereaksi dan zat hasil reaksi.

·         Tetapan kalorimeter adalah sebesar 100,8 J K-1

·         Kalor reaksi sebesar 283,2 J Kalor reaksi tergantung pada massa zat, kalor jenis, dan perubahan suhu yang terjadi.

·         Kalor reaksi tergantung pada massa zat, kalor jenis, dan perubahan suhu yang terjadi.

·         Kalor pelarutan, Zat yang di amati NaOH, Na2SO4, NaCl, NH2SO4, CaCl, KI.

·         ∆H penetralan sebesar 756,57 J/mol

·          

Daftar Pustaka

Anonim. Stoikiometri larutan (http://anggy1.wordpress.com) diakses tanggal 8 januari 2010.

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_dasar/lahirnya_teori_atom/stoikiometri/

Mau tau lebih jelas bisa cek video di bawah ini